1. Penambahan user biasa dan super
useradd, adduser -d, G
menambah user baru, bisa menggunakan opsi -d untuk membuat direktori home user tersebut, -G menentukan
group user tersebut, tetapi biasanya dibuatkan secara otomatis oleh sistem.
useradd arif, adduser arif
userdel -r
user delete, menghapus user yang telah ada, opsi -r jika ingin menghapus home-user yang dihapus, tetapi biasanya
sistem akan menghapus home-user secara otomatis
userdel arif, userdel arif
passwd
password, memberi password kepada user, jika merubah password-user itu sendiri bisa pakai passwd (tanpa ditulis nama-user). Maka akan muncul tampilan newpassword: reenter newpassword: groupadd menambah group, group di Linux bukan hanya untuk pemakai/user, tetapi lebih identik dengan kelompok yang ada di sistem Linux, lihat di /etc/group (lihatnya boleh pake more, less, cat, dll) root::0:root (nama-group : : id-group : anggota group) bin::1:root,bin,daemon users::100: groupadd member-ksl groupdel group delete, menghapus group yang telah ada di /etc/group groupdel member-ksl groupmod -g, o untuk memodifikasi/merubah no-id group tersebut groupmod member-ksl -g 103 groups menampilkan groups yang sedang aktif di system kita groups 2. Hak akses tersebut diberikan kepada : Owner : Pemilik file Group : User lain dalam satu group Other : User lain beda group Contoh : Kita akan memberikan hak akses pada directory bernama “data” # chmod 751 data - Angka 7 adalah hak akses untuk “Owener” berupa penjumlahan kode angka 1 + 2 + 4 yang berarti owener mempunyai hak akses membaca, menulis dan menjalankan directory data. - Angka 5 adalah hak akses untuk “Group” berupa penjumlahan kode angka 1 + 4 yang berarti group mempunyai hak akses membaca dan menjalankan directory data. - Angka 1 adalah hak untuk Other berupa kode angka 1 yang artiya other mempunyai hak akses hanya bisa membaca directory data. Hasil jadi perintah tersebut bisa dilihat dengan perintah # ls –l 3. Berikut adalah beberapa command line pada ubuntu yg diketik dengan format ls -a, l list, untuk menampilkan list/daftar direktori dan file di direktori aktif sekarang ls, ls /etc, ls -la, ls -l /home cd change directory, menuju ke direktori tujuan cd .., cd /, cd /usr/local, cd mkdir make directory, membuat direktori baru mkdir ksl-uad, mkdir /mnt/win_c rmdir remove directory, menghapus hanya direktori kosong rmdir ksl-uad, rmdir /mnt/win_c rm -r, f ,i, v remove, menghapus file, jika ingin menghapus direktori yang berisi file menggunakan option -r rm -r /home/rahasia (hapus direktori) rm jadwal.odt (hapus file) cp -r, v, s copy, mengkopi file/direktori ke tempat tujuan, jika ingin mengkopi file dan tujuannya masih berupa direktori maka secara otomatis akan dibuatkan filenya di dalam direktorinya. cp cp /home/ksl-uad /usr/local mv -f, i, v move, memindah file/dir ke tempat tujuan atau untuk rename file/direktori mv mv ksl-uad ksl (rename ksl-uad menjadi ksl) mv -i /home/ksl /mnt/c (memindah direktori ksl ke /mnt/win_c) ln -s link, membuat link(shortcut) dari suatu file ke file/direktori yang lain ln -s xmms /home/tamu/Desktop (membuat shortcut xmms di desktop tamu) more, less menampilkan isi file secara berurutan perlayar/perlembar cat concatenate, menampilkan seluruh isi file secara langsung dari awal sampai akhir, dan bisa digunakan untuk menggabungkan 2 file (caranya gimana ya…, maaf ini termasuk pemrograman shell, diluar pembahasan kita, masih bertanya-tanya…, cari aja referensi ttg pemrograman shell) cat /etc/lilo.conf mount untuk mengaitkan/shortcut suatu device (partisi HD, cdrom, flashdisk) kedalam direktori /mnt, sehingga device/file itu bisa diakses. 4. Artikel Tentang TCP/IP dan SUBNETTING TCP/IP (singkatan dari Transmission Control Protocol/Internet Protocol) adalah standar komunikasi data yang digunakan oleh komunitas internet dalam proses tukar-menukar data dari satu komputer ke komputer lain di dalam jaringan Internet. Protokol ini tidaklah dapat berdiri sendiri, karena memang protokol ini berupa kumpulan protokol (protocol suite). Protokol ini juga merupakan protokol yang paling banyak digunakan saat ini. Data tersebut diimplementasikan dalam bentuk perangkat lunak (software) di sistem operasi. Istilah yang diberikan kepada perangkat lunak ini adalah TCP/IP stack. Protokol TCP/IP dikembangkan pada akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an sebagai sebuah protokol standar untuk menghubungkan komputer-komputer dan jaringan untuk membentuk sebuah jaringan yang luas (WAN). TCP/IP merupakan sebuah standar jaringan terbuka yang bersifat independen terhadap mekanisme transport jaringan fisik yang digunakan, sehingga dapat digunakan di mana saja. Protokol ini menggunakan skema pengalamatan yang sederhana yang disebut sebagai alamat IP (IP Address) yang mengizinkan hingga beberapa ratus juta komputer untuk dapat saling berhubungan satu sama lainnya di Internet. Protokol ini juga bersifat routable yang berarti protokol ini cocok untuk menghubungkan sistem-sistem berbeda (seperti Microsoft Windows dan keluarga UNIX) untuk membentuk jaringan yang heterogen. Protokol TCP/IP selalu berevolusi seiring dengan waktu, mengingat semakin banyaknya kebutuhan terhadap jaringan komputer dan Internet. Pengembangan ini dilakukan oleh beberapa badan, seperti halnya Internet Society (ISOC), Internet Architecture Board (IAB), dan Internet Engineering Task Force (IETF). Macam-macam protokol yang berjalan di atas TCP/IP, skema pengalamatan, dan konsep TCP/IP didefinisikan dalam dokumen yang disebut sebagai Request for Comments (RFC) yang dikeluarkan oleh IETF. Subnet mask adalah istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris yang mengacu kepada angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID dengan host ID, menunjukkan letak suatu host, apakah berada di jaringan lokal atau jaringan luar. RFC 950 mendefinisikan penggunaan sebuah subnet mask yang disebut juga sebagai sebuah address mask sebagai sebuah nilai 32-bit yang digunakan untuk membedakan network identifier dari host identifier di dalam sebuah alamat IP. Bit-bit subnet mask yang didefinisikan, adalah sebagai berikut: • Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh network identifier diset ke nilai 1. • Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0. Setiap host di dalam sebuah jaringan yang menggunakan TCP/IP membutuhkan sebuah subnet mask meskipun berada di dalam sebuah jaringan dengan satu segmen saja. Entah itu subnet mask default (yang digunakan ketika memakai network identifier berbasis kelas) ataupun subnet mask yang dikustomisasi (yang digunakan ketika membuat sebuah subnet atau supernet) harus dikonfigurasikan di dalam setiap node TCP/IP. Sebuah subnet mask biasanya diekspresikan di dalam notasi desimal bertitik (dotted decimal notation), seperti halnya alamat IP. Setelah semua bit diset sebagai bagian network identifier dan host identifier, hasil nilai 32-bit tersebut akan dikonversikan ke notasi desimal bertitik. Perlu dicatat, bahwa meskipun direpresentasikan sebagai notasi desimal bertitik, subnet mask bukanlah sebuah alamat IP. Subnet mask default dibuat berdasarkan kelas-kelas alamat IP dan digunakan di dalam jaringan TCP/IP yang tidak dibagi ke dalam beberapa subnet. Tabel di bawah ini menyebutkan beberapa subnet mask default dengan menggunakan notasi desimal bertitik. Formatnya adalah: , Kelas alamat Subnet mask (biner) Subnet mask (desimal) Kelas A 11111111.00000000.00000000.00000000 255.0.0.0 Kelas B 11111111.11111111.00000000.00000000 255.255.0.0 Kelas C 11111111.11111111.11111111.00000000 255.255.255.0 Perlu diingat, bahwa nilai subnet mask default di atas dapat dikustomisasi oleh administrator jaringan, saat melakukan proses pembagian jaringan (subnetting atau supernetting). Sebagai contoh, alamat 138.96.58.0 merupakan sebuah network identifier dari kelas B yang telah dibagi ke beberapa subnet dengan menggunakan bilangan 8-bit. Kedelapan bit tersebut yang digunakan sebagai host identifier akan digunakan untuk menampilkan network identifier yang telah dibagi ke dalam subnet. Subnet yang digunakan adalah total 24 bit sisanya (255.255.255.0) yang dapat digunakan untuk mendefinisikan custom network identifier. Network identifier yang telah di-subnet-kan tersebut serta subnet mask yang digunakannya selanjutnya akan ditampilkan dengan menggunakan notasi sebagai berikut: 138.96.58.0, 255.255.255.0 Representasi panjang prefiks (prefix length) dari sebuah subnet mask Karena bit-bit network identifier harus selalu dipilih di dalam sebuah bentuk yang berdekatan dari bit-bit ordo tinggi, maka ada sebuah cara yang digunakan untuk merepresentasikan sebuah subnet mask dengan menggunakan bit yang mendefinisikan network identifier sebagai sebuah network prefix dengan menggunakan notasi network prefix seperti tercantum di dalam tabel di bawah ini. Notasi network prefix juga dikenal dengan sebutan notasi Classless Inter-Domain Routing (CIDR) yang didefinisikan di dalam RFC 1519. Formatnya adalah sebagai berikut: / Kelas alamat Subnet mask (biner) Subnet mask (desimal) Prefix Length Kelas A 11111111.00000000.00000000.00000000 255.0.0.0 /8 Kelas B 11111111.11111111.00000000.00000000 255.255.0.0 /16 Kelas C 11111111.11111111.11111111.00000000 255.255.255.0 /24 Sebagai contoh, network identifier kelas B dari 138.96.0.0 yang memiliki subnet mask 255.255.0.0 dapat direpresentasikan di dalam notasi prefix length sebagai 138.96.0.0/16. Karena semua host yang berada di dalam jaringan yang sama menggunakan network identifier yang sama, maka semua host yang berada di dalam jaringan yang sama harus menggunakan network identifier yang sama yang didefinisikan oleh subnet mask yang sama pula. Sebagai contoh, notasi 138.23.0.0/16 tidaklah sama dengan notasi 138.23.0.0/24, dan kedua jaringan tersebut tidak berada di dalam ruang alamat yang sama. Network identifier 138.23.0.0/16 memiliki range alamat IP yang valid mulai dari 138.23.0.1 hingga 138.23.255.254; sedangkan network identifier 138.23.0.0/24 hanya memiliki range alamat IP yang valid mulai dari 138.23.0.1 hingga 138.23.0.254. Menentukan alamat Network Identifier Untuk menentukan network identifier dari sebuah alamat IP dengan menggunakan sebuah subnet mask tertentu, dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah operasi matematika, yaitu dengan menggunakan operasi logika perbandingan AND (AND comparison). Di dalam sebuah AND comparison, nilai dari dua hal yang diperbandingkan akan bernilai true hanya ketika dua item tersebut bernilai true; dan menjadi false jika salah satunya false. Dengan mengaplikasikan prinsip ini ke dalam bit-bit, nilai 1 akan didapat jika kedua bit yang diperbandingkan bernilai 1, dan nilai 0 jika ada salah satu di antara nilai yang diperbandingkan bernilai 0. Cara ini akan melakukan sebuah operasi logika AND comparison dengan menggunakan 32-bit alamat IP dan dengan 32-bit subnet mask, yang dikenal dengan operasi bitwise logical AND comparison. Hasil dari operasi bitwise alamat IP dengan subnet mask itulah yang disebut dengan network identifier. Contoh: Alamat IP 10000011 01101011 10100100 00011010 (131.107.164.026) Subnet Mask 11111111 11111111 11110000 00000000 (255.255.240.000) ------------------------------------------------------------------ Network ID 10000011 01101011 10100000 00000000 (131.107.160.000) Tabel Pembuatan subnet Subnetting Alamat IP kelas A Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas A. Jumlah subnet (segmen jaringan) Jumlah subnet bit Subnet mask (notasi desimal bertitik/ notasi panjang prefiks) Jumlah host tiap subnet 1-2 1 255.128.0.0 atau /9 8388606 3-4 2 255.192.0.0 atau /10 4194302 5-8 3 255.224.0.0 atau /11 2097150 9-16 4 255.240.0.0 atau /12 1048574 17-32 5 255.248.0.0 atau /13 524286 33-64 6 255.252.0.0 atau /14 262142 65-128 7 255.254.0.0 atau /15 131070 129-256 8 255.255.0.0 atau /16 65534 257-512 9 255.255.128.0 atau /17 32766 513-1024 10 255.255.192.0 atau /18 16382 1025-2048 11 255.255.224.0 atau /19 8190 2049-4096 12 255.255.240.0 atau /20 4094 4097-8192 13 255.255.248.0 atau /21 2046 8193-16384 14 255.255.252.0 atau /22 1022 16385-32768 15 255.255.254.0 atau /23 510 32769-65536 16 255.255.255.0 atau /24 254 65537-131072 17 255.255.255.128 atau /25 126 131073-262144 18 255.255.255.192 atau /26 62 262145-524288 19 255.255.255.224 atau /27 30 524289-1048576 20 255.255.255.240 atau /28 14 1048577-2097152 21 255.255.255.248 atau /29 6 2097153-4194304 22 255.255.255.252 atau /30 2 Subnetting Alamat IP kelas B Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas B. Jumlah subnet/ segmen jaringan Jumlah subnet bit Subnet mask (notasi desimal bertitik/ notasi panjang prefiks) Jumlah host tiap subnet 1-2 1 255.255.128.0 atau /17 32766 3-4 2 255.255.192.0 atau /18 16382 5-8 3 255.255.224.0 atau /19 8190 9-16 4 255.255.240.0 atau /20 4094 17-32 5 255.255.248.0 atau /21 2046 33-64 6 255.255.252.0 atau /22 1022 65-128 7 255.255.254.0 atau /23 510 129-256 8 255.255.255.0 atau /24 254 257-512 9 255.255.255.128 atau /25 126 513-1024 10 255.255.255.192 atau /26 62 1025-2048 11 255.255.255.224 atau /27 30 2049-4096 12 255.255.255.240 atau /28 14 4097-8192 13 255.255.255.248 atau /29 6 8193-16384 14 255.255.255.252 atau /30 2 Subnetting Alamat IP kelas C Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas C. Jumlah subnet (segmen jaringan) Jumlah subnet bit Subnet mask (notasi desimal bertitik/ notasi panjang prefiks) Jumlah host tiap subnet 1-2 1 255.255.255.128 atau /25 126 3-4 2 255.255.255.192 atau /26 62 5-8 3 255.255.255.224 atau /27 30 9-16 4 255.255.255.240 atau /28 14 17-32 5 255.255.255.248 atau /29 6 33-64 6 255.255.255.252 atau /30 2 Variable-length Subnetting Bahasan di atas merupakan sebuah contoh dari subnetting yang memiliki panjang tetap (fixed length subnetting), yang akan menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama. Meskipun demikian, dalam kenyataannya segmen jaringan tidaklah seperti itu. Beberapa segmen jaringan membutuhkan lebih banyak alamat IP dibandingkan lainnya, dan beberapa segmen jaringan membutuhkan lebih sedikit alamat IP. Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen jaringan tersebut memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus dilakukan berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama. Teknik subnetting seperti ini disebut juga variable-length subnetting. Subjaringan-subjaringan yang dibuat dengan teknik ini menggunakan subnet mask yang disebut sebagai Variable-length Subnet Mask (VLSM). Karena semua subnet diturunkan dari network identifier yang sama, jika subnet-subnet tersebut berurutan (kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang sama yang dapat saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke subnet-subnet tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang asli. Teknik variable-length subnetting harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat dibedakan dengan subnet lainnya, meski berada dalam network identifer asli yang sama. Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-segmen jaringan yang akan menentukan berapa banyak segmen yang akan dibuat dan berapa banyak jumlah host dalam setiap segmennya. Dengan menggunakan variable-length subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif: network identifier yang sebelumnya telah di-subnet-kan, di-subnet-kan kembali. Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit host. Tentu saja, teknik ini pun membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol routing yang mendukung variable-length subnetting adalah Routing Information Protocol (RIP) versi 2 (RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border Gateway Protocol (BGP versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak mendukungya, sehingga jika ada sebuah router yang hanya mendukung protokol tersebut, maka router tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang dibagi dengan menggunakan teknik variable-length subnet mask. Sumber : http://id.wikipedia.org
No comments:
Post a Comment